Kritis Terhadap Berita Negatif

Sebuah berita berjalan di salah satu stasiun televisi swasta pagi tadi yang sempat membuat penulis kaget ialah berita bahwa tentara AS mendapatkan video

Tentang Penulis

Ujang lahir di Kubang Rasau (Kab. Lima Puluh Kota Sumatera Barat) pada tanggal 9 September 1980. Anak Pertama dari dua bersaudara.

Meninjau Ulang Pemikiran Keagamaan Kita

Secara umum, pemikiran keagamaan kebanyakan masyarakat (termasuk sebagian ulama) negeri kita cenderung bersifat fiqh. Hal ini dapat dilihat dari cara beragama mereka sehari-hari yang tidak lepas dari tradisi

Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Oktober 2011

PILGRIMAGE


Pilgrimage to Mecca is one of the five pillars in Islam. It is obligatory for every able muslim to visit Mecca once in his lifetime for pilgrimage because Allah said in the holy Qur’an :

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ فِيهِ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آَمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“The first House (of worship) appointed for men was that at Bakka: Full of blessing and of guidance for all kinds of beings. In it are Signs Manifest; (for example), the Station of Abraham; whoever enters it attains security; Pilgrimage thereto is a duty men owe to Allah,- those who can afford the journey; but if any deny faith, Allah stands not in need of any of His creatures.” (Q.S. Ali Imran : 96-97)

Our prophet Muhammad SAW also said :
“Islam is built upon five pillars. First, there is no other God but Allah and Muhammad is His messenger. Second, to observe the five daily prayers. Third, to give zakat, the divine tax. Fourth, to fast during the month of Ramadhan. And fifth, to perform the pilgrimage to the holy House of God in Mecca, for those who are able to offer the journey.

Hajj in Islam means visitting the sacred Mosque in Mecca during certain dates in the Muslim year, which are called “the month of Hajj”. These month are Syawwal, Zul Qa’idah and Zul Hijjah. The pilgrimage to mecca can only be accepted at these time and the condition of performing Hajj can not be accepted before these months.

Another important place for Muslims is the city of Madinah, the second holiest place in Islam, in Saudi Arabia, where Muhammad rests in Al-Masjid al-Nabawi (the Mosque of the Prophet). The ihram (white robes of pilgrimage) is meant to show equality of all pilgrims in the eyes of God: that there is no difference between a prince and a pauper. Ihram is also symbolic for holy virtue and pardon from all past sins. While wearing the ihram in Mecca, a pilgrim may not shave, clip their nails, wear perfume, swear or quarrel, hunt, kill any creature, uproot or damage plants, cover the head for men or the face and hands for women, marry, wear shoes over the ankles, perform any dishonest acts or carry weapons. If they do any of these their pilgrimage is invalid. (From ed.wikipedia.org and English for Islamic Studies)

Sabtu, 14 Mei 2011

KRITIS TERHADAP BERITA NEGATIF


Oleh : Ujang, S.ThI

Sebuah berita berjalan di salah satu stasiun televisi swasta pagi tadi yang sempat membuat penulis kaget ialah berita bahwa tentara AS mendapatkan video porno di kediaman Osamah Bin Laden. Berita ini tentunya sangat membuat kita terkejut. Keterkejutan ini bukan lantaran apa yang mereka temukan. Tetapi, yang penulis fikirkan ketika itu ialah fitnah (berita bohong) apalagi yang akan dilontarkan kepada Osamah bin Laden ini.


Secara logika, tidak masuk akal seorang yang selama ini selalu menentang AS disebabkan beberapa kesewenang-wenangan yang dilakukannya. Namun, karena menentang negara kuat, akhirnya cap teroris terlalu mudah dituduhkan serta duniapun mengiyakannya. Tidak terkecuali negeri-negeri berpenduduk Muslim. Meskipun perlawanan yang ia lakukan selalu hanya diarahkan pada kepentingan-kepentingan AS di saat mereka melakukan agresi atau tindakan lain terhadap negeri muslim.


Sebagai seorang muslim, hendaknya setiap berita yang dituduhkan pada umat Islam tetap harus kita terima secara kritis, apalagi yang datangnya dari orang kafir. Sebab, tidak mustahil sebagian dari berita tersebut bertujuan untuk mendeskreditkan umat sendiri, terutama orang-orang yang memiliki semangat beragama dan ketaatan terhadap agamanya (Islam).


Banyak sekali kita menemukan berita-berita seperti ini. Beberapa waktu yang lalu misalnya, tersiar juga sebuah berita bahwa seorang politisi partai dakwah disebutkan menonton adegan porno dalam sidang DPR. Terlepas apakah ini benar atau tidak, paling tidak kita juga tetap menemukan beberapa kejanggalan dalam berita ini. Benarkah itu? Ataukah semata-semata fitnah untuk menjebak dan memberikan stigma negatif terhadap partai yang di anutnya.


Sebagai orang yang beriman seyogyanya kita bersikap analitis dan kritis terhadap berita tentang orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebab, Allah sendiri berfirman :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu” (QS. Al-Hujurat [49] : 6)


Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membela beberapa nama yang penulis sebutkan. Tetapi penulis hanya mengajak pembaca sekalian untuk lebih berhati-hati menerima setiap berita apapun (terlebih yang cenderung mendeskreditkan ummat). Agar kita terhindar dari akibat kekurang hati-hatian tersebut, yang dapat mencelakakan saudara kita seiman lainnya. Wallahu a’lam.

Senin, 14 Maret 2011

Kita ada karena diciptakan Allah swt

Oleh. Ujang, S.ThI

Pernahkah kita berfikir bahwa sebelumnya kita ini tidak ada sama sekali, bahkan kedua orang tua kita, sampai nenek-moyang kita sekalipun. Demikian juga halnya bumi yang kita diami, langit yang terbentang di atas sana, dan juga gunung-gunung yang menjulang tinggi. Namun, berkat iradah Allah Swt, lantas kita dan alam semesta ini menjadi ada.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah (2):21)

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah (2):29)

Namun, begitu kita dilahirkan di bumi ini, sejak kecil, remaja, dewasa, hingga tua, wajarkah bila hidup ini kita lalui tanpa melakukan pengabdian (ibadah) kepada Tuhan yang telah menciptakan tersebut. Layakkah berbagai pemberian yang tidak terhitung ini hanya kita nikmati saja tanpa rasa syukur kepada Allah Swt yang telah memberi segala bentuk nikmat tersebut.

Sangat banyak contoh nyata yang telah kita dengar dan ketahui. Bagaimana Allah Swt telah membinasakan orang-orang sebelumnya disebabkan kesombongan mereka yang tidak memenuhi seruan-Nya, seperti Fir’aun dan Qarun. Mereka binasa dengan harta, kedudukan dan berbagai kesenangan yang mereka raih.

Ketika seseorang yang dilahirkan dari keluarga biasa, berkekurangan dari berbagai kemewahan dan kesenangan duniawi merasa bahwa diri mereka kurang sempurna dari nikmat. Apakah ia lupa bahwa ia masih diberi kelebihan oleh sang pencipta berupa kesempurnaan fisik yang dimilikinya sejak lahir. Padahal, ada sebagian manusia yang lahir dengan membawa cacat fisik,seperti buta sebelah, ada kekurangan pada bibir, telinga dan lainnya.

Demikian juga bagi mereka yang dilahirkan membawa cacat fisik, ternyata mereka masih diberikan berbagai kelebihan, karena ada sebagian bayi yang lahir langsung meninggal dunia, tanpa merasakan sejuknya pangkuan ayah dan bunda. Belum sempat menatap indahnya alam semesta ini. Artinya, bagaimanapun keadaan kita tetap harus disyukuri karena kita telah diberi kesempatan hidup oleh Allah Swt.

Salah satu cara meningkatkan rasa syukur atas berbagai nikmat Allah Swt ini diajarkan Nabi Muhammad Saw dalam sebuah hadis :

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Pandanglah olehmu orang yang lebih rendah darimu, dan janganlah kamu memandang orang yang di atasmu. Maka cara tersebut lebih pantas agar kamu tidak merasa hina (berkekurangan) terhadap nikmat Allah Swt atas dirimu” (HR. Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah bab al-nazhru ila man fauqahu fi al-din).

Tentang nikmat kesehatan dan berbagai waktu luang (kesempatan) sering diabaikan manusia disebutkan dalam sebuah hadis bahwa Rasulullah Saw bersabda :

نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس الصحة و الفراغ

“Ada dua nikmat yang sering dilupakan manusia yaitu : nikmat kesehatan dan kesempatan (waktu luang).” (HR. Al-Hakim dari Ibnu ‘Abbas ra dalam kitab Mustadrak ‘ala al-Shahihain, Muhammad bin Abdullah Abu Abdullah al-Hakim al-Naisaburi, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, 1990=1411 H, juz 4, h.341)

Kamis, 23 Desember 2010

Mahalnya Kejujuran



Oleh. Ujang

Bila dicermati, apakah yang paling jarang kita jumpai sekarang? Maka jawabannya adalah KEJUJURAN. Kemiskinan dengan mudah bisa kita temui. Perbuatan asusila bertebaran di berbagai tempat, buktinya lihatlah ke objek wisata-objek wisata yang agak jauh dari keramaian, diskotik, pantai bahkan tidak jarang perhotelanpun malah dijadikan. Korupsi dengan segala tetek bengeknya selalu menjadi konsumsi berita media di negeri ini sepanjang waktu. Maka tepatlah, bahwa kejujuran termasuk sesuatu yang sangat nyata hari ini.

Dalam sabili.co.id beberapa waktu lalu dikisahkan suatu kisah yang sangat menarik tentang wara’nya Umar bin Abdul Azis. Diceritakan hari terakhir Umar bin Abdul Azis menjadi khalifah Bani Umayyah, ia didatangi oleh Maslamah bin Abdul Malik. Ia adalah salah seorang keluarga Abdul Malik bin Marwan/keluarga Bani Umayyah yang mengingatkan Umar bin Abdul Aziz dengan mengatakan, “Wahai Amirul mukminin, sesungguhnya engkau telah membuat anak-anakmu ini miskin. Padahal harta negara berlimpah. Mengapa engkau tidak berwasiat tentang anak-anakmu ini kepada kami agar hidup layak sebagaimana keluarga Bani Umayyah yang lain?

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Bangunkan dan sandarkan aku." Lalu ia berujar tentang pernyataan Maslamah yang menganggapnya telah membuat miskin anak-anaknya itu. "Demi Allah saya tidak menghalangi dari hak mereka, tetapi saya tidak memberikan yang bukan haknya. Tentang wasiat yang engkau sampaikan: Sesungguhnya pelindungku ialah yang telah menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) dan Dia melindungi orang-orang yang shalih," kata Umar seraya mengutip QS.7: 196.

Selanjutnya Umar bin Abdul Aziz menegaskan: Anakku kemungkinannya adalah satu dari dua pilihan. Kemungkinan pertama, ia menjadi orang-orang shalih yang bertaqwa kepada Allah, maka pastilah Allah yang akan memberikan jalan keluar dari semua masalah yang akan mereka hadapi. Atau kemungkinan kedua, mereka menjadi ahli maksiat, maka saya tidak akan pernah menjadi fasilitator bagi perbuatan maksiatnya.

Kemudian Umar bin Abdul Aziz memanggil anak-anaknya (semua laki-laki berjumlah tiga belas), setelah mereka berkumpul di hapadannya ia pandangi satu persatu putranya itu. Kemudian ia berkata di hadapan Maslamah bin Abdul Malik, “Anak-anak muda yang hendak aku tinggalkan dalam keadaan miskin tidak memiliki kekayaan sedikitpun, sesungguhnya saya bersyukur kepada Allah, meninggalkan anak-anak muda ini dalam keadaan baik."

Umar melanjutkan, "Wahai anak-anakku, sesungguhnya ayahmu berada dalam dua pilihan. Pertama, meninggalkan kalian dalam keadaan kaya, tetapi ayahmu akan masuk neraka karena memberikan fasilitas yang bukan hak kalian. Kedua, meninggalkan kalian dalam keadaan miskin, tapi ayahmu berpeluang masuk surga karena ayah hanya meninggalkan yang memang menjadi hak kalian.” lalu Umar bin Abdul Aziz lebih senang meningalkan mereka dalam keadaan miskin tetapi shalih dan bertaqwa.

Luarbiasa sekali.....Seandainya sikap seperti yang dicontohkan Umar bin abdul azis ini bisa kita teladani dalam setiap lini pekerjaan yang kita lakukan, tentunya kesejahteraan bersama itu akan terwujud. Tidak seperti yang sering diributkan banyak orang sekarang bahwa yang kaya dan berkuasa semakin kaya dan yang miskin semakin teraniaya. Wallahu a’lam.

Rabu, 11 Agustus 2010

MELAWAN PORNOGRAFI

Oleh. Ujang, S.ThI


Akhir-akhir ini, media massa dan elektronik di negeri ini selalu dipenuhi headline tentang pornografi dan pornoaksi. Terlebih, setelah beredarnya video porno yang mirip tiga orang artis yang sampai sekarang masih dalam penyelidikan kepolisian. Jika benar mereka adalah pelakunya, dapatkah ketiganya dikenai sanksi secara hukum? Lalu apa yang dimaksud dengan pornografi itu sendiri?


Sejak tanggal 26 November 2008, pemerintah telah memberlakukan Undang-undang (UU) No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi. Dalam pasal 1 dijelaskan bahwa pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau ekspoitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.


Sedangkan jasa pornografi adalah segala jenis layanan pornografi yang disediakan oleh orang perseorangan atau korporasi melalui pertunjukan langsung, televisi kabel, televisi teresterial, radio, telepon, internet, dan komunikasi elektronik lainnya serta surat kabar, majalah, dan barang cetakan lainnya. (Koran republika tanggal 25 Juni 2010)


Seharusnya undang-undang ini sudah bisa dijadikan sebagai senjata untuk membasmi segala bentuk perbuatan, penampilan, kata-kata dan segala hal yang berbau porografi lainnya. Ironisnya, justeru kasus-kasus tersebut masih sering muncul. Bahkan, tidak jarang kaset DVD bajakan yang dijual di jalananpun kabarnya juga ada yang diselingi dengan film-film berbau porno tersebut.


Jauh sebelum UU no. 44 tentang pornografi tersebut diundangkan, para ulama yang tergabung dalam wadah Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah menetapkan fatwa nomor 287 tahun 2001 tentang pornografi dan pornoaksi. Bahkan para ulama juga telah menetapkan hukum haram terkait berbagai hal yang menyangkut pornografi. Namun, sepertinya seruan dan fatwa ulamapun sudah tidak dipedulikan ummat lagi. Sungguh, sangat mengerikan sebuah bangsa yang mayoritasnya beragama Islam ini, namun generasi mudanya selalu disirami dengan berbagai hal yang sangat merusak moral tersebut.


Saatnya, kita saling introspeksi dan mempersiapkan langkah ke depan. Tidak mungkin kita akan selalu membiarkan generasi muda kita dibesarkan dalam budaya, tontonan, dan sikap yang banyak mengarah kepada pornografi dan pornoaksi ini. Yang terlibat di dalamnya harus diberi sanksi yang keras dan membuat jera serta menumbuhkan rasa takut bagi orang lain untuk melakukannya. Karena, nurani setiap ummat dan bangsa manapun pasti menolak dan menilai itu sebagai suatu kekejian. Apalagi agama Islam yang sangat jelas mengharamkannya, tidak hanya melakukan, bahkan mendekatinyapun diharamkan.


ولا تقربوا الزنى إنه كان فاحشة و ساء سبيلا.

“Dan janganlah kamu mendekati perbuatan zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan merupakan jalan yang paling buruk.” (Q.S. al-Isra’ : 32 )

Senin, 20 Juli 2009

Kebahagiaan Sejati

Oleh : Ujang, S.ThI

Sebagian orang beranggapan bahwa kebahagiaan yang sebenarnya itu terdapat pada banyaknya harta yang dimiliki serta banyak aspek materi yang sudah diraih. Sehingga, kebutuhan materi menjadi tujuan utama bagi kehidupan manusia. Benarkah demikian?

Bagi manusia yang tujuan kehidupannya hanyalah kehidupan duniawi saja tentu ia akan memandang demikian. Sebab, mereka meyakini bahwa hidup itu hanya sekali, yakni kehidupan sekarang. Sehingga bagi mereka, tolak ukur segala bentuk kebahagiaan dan kesuksesan adalah aspek material.

Sebaliknya, dalam al-Qur’an kebahagiaan dan keberhasilan itu justeru tolak ukurnya adalah kebahagiaan dalam kehidupan yang abadi nanti, yakni kehidupan akhirat. Allah berfirman :

كل نفس ذائقة الموت و إنما توفون أجوركم يوم القيامة فمن زحزح عن النار و أدخل الجنة فقد فاز وما الحياة الدنيا إلا متاع الغرور

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran : 185)

Dalam ayat tersebut, Allah menyatakan bahwa “barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung”. Di sini dapat dipahami bahwa puncak kebahagiaan itu sebenarnya adalah ketika seseorang selamat dari siksaan Allah (neraka).

Tentu, ketika kebahagiaan dan kesukseskan diukur di sana, maka konsekuensi untuk mencapainya ialah selama hidup di dunia seseorang mesti hidup sesuai dengan norma-norma dan aturan Allah SWT. Hal inilah yang diisyaratkan Allah melalui firmannya :

يايها الذين أمنوا اركعوا واسجدوا واعبدوا ربكم وافعلوا الخير لعلكم تفلحون

“Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (al-Hajj : 77)

Bila kita perhatikan dalam al-Qur’an, terdapat dua kata yang sangat dekat maknanya dengan kesuksesan ini, yaitu al-fa’izun dan al-muflihun. Kata al-fauz seperti terdapat dalam QS. Ali ‘Imran : 185 yang sudah kita kemukakan di atas tadi. Kata ini (al-fauz) disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 16 kali, sedangkan kata dari perubahan bentuknya sebanyak 13 kali. Semua kata-kata itu tersebar dalam 20 surat al-Qur’an.

Oleh sebab itu, jalan untuk meraih kebahagiaan sejati ialah dengan menjadikan kehidupan akhirat sebagai tujuan hidup. Hal ini tidaklah menghalangi manusia dari dunia. Sebaliknya, ketika akhirat sudah dijadikan tujuan, niscaya dunia akan terbawa. Rasulullah pernah bersabda :

من كانت الاخرة همه جعل الله غناه في قلبه و جمع له شمله و أتته الدنيا و هي راغمة ومن كانت الدنيا همه جعل الله فقره بين عينيه و فرق عليه شمله و لم يأته من الدنيا إلا ما قدر له

“Barangsiapa menjadikan akhirat sebagai tujuan hidupnya, maka Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya, mengumpulkan dunia baginya, dan dunia dating kepadanya dengan menunduk. Barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya, maka Allah akan menjadikan kemiskinan dalam hatinya, menghancurkan dunianya, dan dunia tidak akan dating kepadanya, kecuali apa yang telah ditentukan untuknya.” (HR. Tirmidzi)

Semoga kita selalu termasuk orang-orang yang akan mendapatkan kemenangan dan kesuksesan itu. Sehingga akan meraih kebahagiaan yang sesungguhnya. Wallahu a’lam.

Kamis, 19 Februari 2009

HARI VALENTINE

Oleh. Ujang, S.ThI

Pertengahan bulan Februari ini kembali masyarakat kita, terutama para remaja memperingati hari valentine atau yang lebih dikenal dengan hari kasih-sayang. Sudah menjadi budaya bagi para generasi muda untuk selalu melakukan acara-acara istimewa untuk orang-orang yang dicintai pada hari itu. Persoalannya, apakah tradisi seperti itu dibolehkan dalam agama atau tidak…???

Sejarah Valentine

Dalam al-islahonline.com diceritakan bahwa Valentine adalah nama seseorang pemimpin agama Katolik yang telah dianggap menjadi martir ?Islam : Syuhada- oleh orang-orang Kristen (katolik) dan Valentine telah diberi gelar sebagai orang suci (Santo) oleh orang-orang Kristen.

Kisahnya bermula ketika raja Claudius II (268 - 270 M) mempunyai kebijakan yang melarang prajurit-prajurit-nya untuk menikah. Menurut raja Claudius II, bahwa dengan tidak menikah maka para prajurit akan agresif dan potensial dalam berperang.

Kebijakan ini ditentang oleh Santo Valentine dan Santo Marius, mereka berdua secara diam-diam tetap menikahkan para parujurit dan muda-mudi, lama-kelamaan tindakan mereka diketahui oleh raja Claudius, sang rajapun marah dan memutuskan untuk memberikan sangsi kepada Valentine dan santo Marius yaitu berupa hukuman mati.

Sebelum dihukum mati, Santo Valentine dan Santo Marius dipenjarakan dahulu, dalam penjara Valentine berkenalan dengan seorang gadis anak sipir penjara, kemudian gadis ini setia menjenguk valentine hingga menjelang kematian Valentine. Sebelum Valentine dihukum mati, Valentine masih sempat menulis pesan kepada gadis kenalannya, yang isinya :

' From Your Valentine '

Setelah kematian Santo Valentine dan Santo Marius, orang-orang selalu mengingat kedua santo tersebut dan merayakannya sebagai bentuk ekspresi cinta kasih Valentine, dua-ratus tahun kemudian yaitu tahun 496 Masehi setelah kematian Santo Valentine dan Santo Marius, Paus Galasius meresmikan tanggal 14 Pebruari 496 sebagai hari Velentine.

Ada versi lain tentang sejarah Valentine, yaitu pada masa Romawi Kuno, tanggal 14 Pebruari merupakan hari raya untuk memperingati dewi Juno, dewi Juno adalah ratu dari segala dewa dan dewi, orang-orang Romawi kuno juga meyakini bahwa dewi Juno adalah dewi bagi kaum perempuan dan perkawinan ?dewi cinta.

Pada tanggal 14 Pebruari orang-orang Romawi kuno mengadakan perayaan untuk memperingati Dewi Juno dengan cara memisahkan kaum laki-laki dan perempuan. Nama-nama remaja perempuan ditulis pada potongan kertas lalu digulung dan dimasukkan ke dalam botol, setelah itu para laki-laki mengambil satu kertas sebagai, setiap laki-laki akan mendapatkan pasangan sesuai nama yang didapat dalam undian tersebut, bila kemudian mereka ada kecocokan maka mereka akan melangsungkan pernikahan dihari-hari berikutnya.

Pada abad ke 16 Masehi, perayaan Valentine yang semula merupakan ritual milik agama Kristen Katolik telah berangsur-angsur bergeser, yang semula untuk memperingati kematian santo Valentine dan Marius telah bergeser menjadi hari ?Jamuan Kasih Sayang? yang disebut sebagai ?Supercalis? seperti yang dirayakan oleh bangsa Romawi Kuno pada tiap tanggal 15 Pebruari.

Sedangkan pada abad pertengahan di dalam bahasa Perancis-Normandia terdapat kata ?Galentine? yang berasal dari kata Galant yang berarti cinta, persamaan bunyi antara Galentine dan Valentine disinyalir telah memberikan ide kepada orang-orang Eropa bahwa sebaiknya pada tanggal 14 Pebruari digunakan untuk mencari pasangan. Dan kini Valentine telah tersinkretisasi dengan peradaban Barat. Valentine telah menjadi bentuk pesta hura-hura, simbol modernitas, sekedar simbol cinta, dan sudah mulai bernuansa pergaulan bebas dan seks bebas.

Peringatan hari Valentine menurut Islam

Berdasarkan sejarah valentine di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa tradisi memperingati hari valentine bukanlah termasuk budaya Islam. Sebagai seorang mukmin, kita haruslah bertanya : Wajarkah kita mengikuti tradisi-tradisi umat tertentu yang tidak ada hubungannya dengan agama kita?

Apakah kita tidak merasa cemas dengan ancaman Rasulullah SAW : “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, ia akan termasuk golongan mereka.” HR. Ahmad. Artinya setiap budaya dan cara hidup umat lain yang kita tiru, bisa berarti bahwa kita juga bagian dari umat tersebut. Jika memang demikian, maka sudah sepatutnya bila setiap remaja muslim tidak lagi memperingati hari tersebut.

Bila ditinjau dari aspek mudharat yang sering terjadi, maka peringatan hari kasih-sayang juga sering mendatang bahasa besar bagi seseorang. Mengapa tidak………………………? Bukankah tidak sedikit remaja muslim yang menghabiskan malam valentine untuk melepaskan dan melampiaskan rasa saying mereka, baik dengan mengadakan acara nongkrong di tepi pantai, gunung-gunung, melakukan kemping yang bercampur antara laki-laki dan perempuan. Bahkan tidak jarang, MAAF…………. Bagi mereka yang masih memiliki kadar iman yang kurang sering menjadikan malam tersebut untuk merusak kehormatan teman dekatnya (alias pacarnya). Na’udzubillah min dzalik!!!

Bukankah ajaran agama kita melarang bepergian antara dua orang yang bukan muhrim, terlebih lagi bila hal itu dilakukan ke tempat-tempat yang sepi. Ajaran agama kita sangat memperhatian kemaslahatn penganutnya. Tidak hanya melakukan zina yang dilarang, bahkan mendekati tempat-tempat dan aspek-aspek yang bisa membuka terjadinya perbuatan zinapun dilarang. Allah berfirman : “Janganlah kamu dekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan seburuk-buruk jalan.” (QS. al-Isra’ “ )

Sebagian besar remaja muslim, bahkan orang tua sekalipun cukup banyak yang memeriahkan acara tersebut sekedar hiburan semata dan ditambah lagi akibat ketidaktahuan mereka tentang sejarah velentine. Inilah kelemahan terbesar umat Islam hari ini. Padahal Allah telah mengisyaratkan :
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabnya.” (Al Isro’: 36)

Di sisi lain. Agama Islam hanya mengizinkan hari berkasih-sayang itu setelah masa pernikahan. Tidak pantas bagi seorang muslim membagi lebih dulu kasih saying tersebut sebelum mereka mengadakan akad nikah. Sedangkan peringatan valentine lebih sering mengajarkan para remaja untuk selalu mengungkapkan cinta dan kasing-sayang kepada lawan jenis yang dicintainya.

Saudara-saudaraku seiman……, ternyata memang besar sekali kemudharatan memperingati hari valentine tersebut, yang jelas tidak berasal dari agama kita. Oleh sebab itu, masih kita akan menjadi manusia yang terbawa dengan lingkungan sekitar setiap memasuki tanggal 14 Februari itu. Atau sebaliknya, kita berjanji pada diri sendiri bahwa mulai hari ini saya akan menjadi muslim sejati yang salah satu caranya ialah tidak mudah mengikuti budaya-budaya luar, apalagi yang bisa merusak agama seperti peringatan hari valentine. Wallahu a’lam.


Referensi :

1. http://al-islahonline.com/bca.php?idartikel=93
2.http://manhajislam.wordpress.com/2007/01/08/valentine-hari-raya-mengenang-pendeta/
3..http://lifestyle.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/01/29/197/187373/alasan-wanita-mengagungkan-hari-valentine

Jumat, 05 Desember 2008

IBADAH QURBAN

Oleh : Ujang, S.ThI

DEFINISI

Berdasarkan riwayat Al-Ashmu’i, diterangkan bahwa ada 4 bacaan pada kata alif dh ha ya ta (yang merupakan asal kata yang bermakna qurban), yaitu : Dengan mendhammah hamzah (Udhhiyyah), dengan mengkasrah hamzah: (Idhhiyyah), dhahiyyaah dengan memfathah huruf dhad dan adhhaah. Dari asal kata inilah penamaan hari raya adhha diambil.

Menurut Al-Qadhi rahimahullahu : “Disebut demikian karena pelaksanaan (penyembelihan) adalah pada waktu dhuha yaitu hari mulai siang.”
Adapun definisinya secara syar’i, : “Hewan yang disembelih pada hari nahr (Iedul Adha) dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Lihat Subulus Salam 4/166)

SEJARAH QURBAN

Bila diperhatikan ke belakang, maka sejarah qurban dapat dibagi menjadi tiga, yaitu : zaman Nabi Adam As; zaman Nabi Ibrahim As; dan pada zaman Nabi Muhammad SAW.

Pertama, pada zaman Nabi Adam As. Qurban dilaksanakan oleh putra-putranya yaitu bernama Qabil dan Habil. Peristiwa ini diceritakan dalam QS. Al-Maidah : 27;

Artinya : ”Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qorban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (qorban) dari orang-orang yang bertakwa".

Kekayaan yang dimiliki oleh Qabil mewakili kelompok petani, sedang Habil mewakili kelompok peternak. Sebagai petani si Qabil mengeluarkan qurbannya dari hasil pertaniannya dan sebagai peternak si Habil mengeluarkan hewan-hewan peliharaannya untuk qurban. Namun dalam pelaksanaan qurban keduanya berbeda, si Habil mengeluarkan hewan dengan tulus ikhlas, ia pilih hewan yang gemuk dan sehat, dan dia taat terhadap petunjuk ayahnya Nabi Adam AS. Lain halnya dengan si Qabil, ia memilih buah-buahan yang jelek-jelek dan tidak bagus lagi. 

Sehingga, yang diterima Allah SWT hanyalah qurban si Habil yang ia keluarkan dengan ikhlas, sesuai dengan petunjuk Nabi Adam AS serta semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sedang qurban si Qabil yang berasal dari hasil pertanian yang jelek-jelek dan ia berikan karena terpaksa tidak diterima oleh Allah SWT. Akhirnya si Qabil menaruh dendam kepada si Habil, yang sudah berawal dari perebutan calon istrinya, dimana peraturan waktu itu dengan sistem silang.

Kedua, pada zaman Nabi Ibrahim As. Yakni, ketika nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk menqurbankan anaknya sendiri (Nabi Isma’il AS). Padahal, nabi Isma’il ketika itu sedang dalam usia yang sangat menyenangkan bagi seorang ayah, terlebih lagi kelahirannya sudah lama ditunggu-tunggu. Namun, di usia tua baru nabi Ibrahim dikarunia anak. Peristiwa ini dikisahkan dalam Al-Qur'an surat Ash-Shafaat ayat 100-111 ;

Artinya : “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar". Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian, (yaitu) "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia Termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”

Meskipun perintah ini sangatlah berat, namun bagi nabi Ibrahim dan juga Isma’il, namun panggilan Allah tetap melebihi segalanya. Karena mereka sangat meyakini bahwa segala perintah Allah pasti memiliki rahasia dan hikmah yang sangat mendalam dan juga Allah pasti akan memberikan balasan yang sangat besar bagi hamba-hambanya yang taat dan ikhlas. Peristiwa inilah sebagai wujud pengsyari’atan qurban yang akan menjadi ibadah rutin umat nabi Muhammad SAW setiap memasuki ‘idul Adhha.

Ketiga, zaman Nabi Muhammad SAW. Qurban diceritakan kembali yaitu di dalam surat Al-Kautsar ayat 1-3 ;



Artinya : “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.”

Hubungan manusia secara vertikal dengan Allah SWT diwujudkan dari pelaksanaan ibadah shalat. Karena dalam ibadah tersebut, terdapat isyarat terjadinya dialog langsung antara khaliq (Allah SWT) dengan makhluknya. Sedangkan hubungan antara sesama manusia secara horisontal diwujudkan melalui ibadah qurban, yaitu setelah shalat ‘Idul Adha dengan memotong hewan ternak berupa kambing atau sapi untuk dibagikan kepada fakir miskin.

Maka qurban merupakan masalah ubudiyah yang bersifat sosial yang berhubungan dengan sesama manusia dengan cara mengorbankan sebagian harta. Namun di sisi lain, qurban juga dapat dipandang sebagai ibadah yang merupakan wujud dari hubungan vertikal antara manusia dengan Allah SWT. Karena ibadah qurban bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, mendapatkan ridha serta mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT. Memotong hewan qurban; unta, sapi, kerbau, dan kambing, dengan tujuan taqwa kepada Allah, ditegaskan dalam surat Al-Hajj : 37 : 

Artinya : “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

HUKUM QURBAN

Menurut mazhab Hanafi hukumnya wajib dengan dalil hadis Abu Hurairah yang menyebutkan Rasulullah s.a.w. bersabda :

"Barangsiapa mempunyai kelonggaran (harta), namun ia tidak melaksanakan qurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami" (H.R. Ahmad, Ibnu Majah). 

Ini menunjukkan suatu perintah yang sangat kuat sehingga lebih tepat untuk dikatakan wajib.

Mayoritas ulama mengatakan hukum qurban sunnah dan dilakukan setiap tahun bagi yang mampu. Mazhab syafi'i mengatakan qurban hukumnya sunnah 'ain (menjadi tanggungan individu) bagi setiap individu sekali dalam seumur dan sunnah kifayah bagi sebuah keluarga besar, menjadi tanggungan seluruh anggota keluarga, namun kesunnahan tersebut terpenuhi bila salah satu anggota keluarga telah melaksanakannya. Dalil yang melandasi pendapat ini adalah riwayat Umi Salamah, Rasulullah s.a.w. bersabda :

"Bila kalian melihat hilal dzul hijjah dan kalian menginginkan menjalankan ibadah qurban, maka janganlah memotong bulu dan kuku hewan yang hendak disembelih" (H.R. Muslim dll). 

Hadist ini mengaitkan ibadah qurban dengan keinginan yang artinya bukan kewajiban. 

Qurban disunnahkan kepada yang mampu. Ukuran kemampuan tidak berdasarkan kepada nisab, namun kepada kebutuhan per individu, yaitu apabila seseorang setelah memenuhi kebutuhan sehari-harinya masih memiliki dana lebih dan mencukupi untuk membeli hewan qurban, khususnya di hari raya iedul adha dan tiga hari tasyriq.

Demikianlah uraian singkat tentang iabadah qurban. Mudah-mudahan dengan uraian ini akan muncul semangat kuat di hati kita untuk menunaikannya. Dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sekaligus, dalam aspek sosial, qurban bisa menolong dan menyenangkan hati orang-orang yang kurang mampu. Wallahu a’lam.

Sumber :
Kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab karangan Imam al-Nawawi
Kitab Subul al-Salam karangan Muhammad bin Ismail al-Kahlani
http://www.kajianislam.net
http://organisasi.org
http://www.dudung.net
http://asysyariah.com
http://annuur.multiservers.com




Selasa, 18 November 2008

MENINJAU ULANG PEMIKIRAN KEAGAMAAN KITA

Oleh. Ujang, S.ThI

Secara umum, pemikiran keagamaan kebanyakan masyarakat (termasuk sebagian ulama) negeri kita cenderung bersifat fiqh. Hal ini dapat dilihat dari cara beragama mereka sehari-hari yang tidak lepas dari tradisi yang diwariskan orang tua terdahulu melalui kitab-kitab fiqh yang mereka ajarkan.

Demikian pula dalam menggali pemahaman agama, muncul kecenderungan hanya mengambil referensi dari kitab-kitab fiqh yang diwariskan guru-guru terdahulu, yang seringkali hanya memiliki kecenderungan pada salah satu mazhab. Apakah cara beragama seperti ini salah?

Pada hakikatnya, boleh saja kita memakai metode seperti ini. Tetapi, metode tersebut dapat menyempitkan cara berfikir seseorang, dalam arti keluasan keilmuan seseorang dalam memahami agamanya bisa terbatas berdasarkan ijtihad pendiri mazhab tersebut.

Akibatnya, cara berfikir seperti ini cenderung menyalahkan cara beribadah mazhab yang dipakai orang lain. Sebagai contoh, orang yang terbiasa shalat dengan menjaharkan basmallah ketika membaca surah al-Fatihah, pakai qunut dalam shalat Subuh, dll, memiliki kecenderungan untuk menyalahkan golongan yang beramal sebaliknya (yakni mereka yang tidak menjaharkan basmallah maupun yang tidak pakai qunut). Alasan yang dikemukakan cenderung bersifat tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang dan orang tua terdahulu, bahkan tidak jarang dengan menyebutkan kitab-kitab yang mereka pakai, yang kadangkala hanya terbatas pada kalangan mazhab tertentu.

Jika demikian, lantas dimana peranan al-Qur’an dan Sunnah (hadis) sebagai rujukan utama dalam menetapkan hukum, terlebih lagi dalam pelaksanaan cara beribadah? Apakah pemahaman ulama-ulama terdahulu yang termaktub dalam karya-karya mereka membuat kita enggan menggali al-Qur’an melalui kitab-kitab tafsir (terutama kitab tafsir bil ma’tsur seperti karya Imam al-Thabari dan Ibnu Katsir ataupun kitab tafsir bil ra’yi lainnya) serta menggali hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang terdapat dalam kitab-kitab hadis sumber asli (seperti kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Turmudzi, Sunan Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Sunan Abu Daud, Muwatha’ Imam Malik, Musnad Ahmad bin Hanbal, dll).

Kalaupun kita sering merujuk pada kitab-kitab hadis, tetapi sering hanya terbatas pada kitab sumber kedua (yakni kitab yang mengambil hadis-hadisnya dari kitab hadis sumber asli) seperti Bulughul Maram, Riyadhush Shalihin, al-Lu’lu’ wal Marjan, dll. Tentu saja, kitab-kitab tersebut hanya mengutip sebagian hadis saja tentang masalah tertentu dari kitab sumber asli. Sehingga, kita masih perlu merujuk pada kitab hadis sumber asli dan memahami penjelasan (Syarahnya) melalui kitab-kitab syarah hadis, seperti kitab Fathul Bari, Irsyadus Sari, Syarah Nawawi, Tuhfatul Ahwadzi, ‘Aunul Ma’bud, dll.

Penulis mengemukakan pemikiran demikian bukan berarti menafikan metode berfikir yang selama ini banyak dipakai orang, melainkan semata-mata mengingatkan agar kita tidak mengabaikan saja keberadaan al-Qur’an dan hadis-hadis nabi sebagai sumber utama dalam beragama. Bukankah ulama-ulama terdahulu mengawali keilmuan mereka dengan memahami al-Qur’an dan hadis-hadis nabi secara mendalam, bahkan tidak jarang menghafalnya terlebih dahulu.

Misalnya Imam Syafi’i, kepopulerannya di bidang fiqh lahir setelah ia mendalami al-Qur’an dan sunnah. Bahkan, para ulama hadis memberinya gelar Nashirus Sunnah (pembela sunnah), karena ia sangat keras menentang golongan ingkar sunnah dan juga ia telah banyak melahirkan teori-teori ilmu hadis, seperti Nasikh wal Mansukh dan penyelesaian hadis-hadis mukhtalif, dll.

Mengapa kita tidak mengikuti jejak ulama-ulama terdahulu dalam memahami agama? Tiadakah kita merindukan lahirnya mujtahid-mujtahid modern yang akan berijtihad sesuai dengan kebutuhan zamannya dengan tetap berpegang pada petunjuk al-Qur’an hadis? Wallahu A’lam.

URGENSI PERSAUDARAAN SEIMAN

Oleh. Ujang, S.ThI

Semakin majunya zaman seringkali membuat manusia lupa diri. Persaingan hidup di zaman global ini tidak jarang menciptakan pola hidup saling mengejar keuntungan masing-masing yang tanpa malu menghalalkan segala cara. Pola hidup materialis telah banyak mendatangkan korban, terutama tiada lagi memandang kawan dan teman-teman dekat. Ada suatu sifat yang kita jumpai dalam kehidupan seperti ini yaitu perasaan diletakkan di belakang, rasa kasihan dikesampingkan. Sehingga, yang terjadi adalah keuntungan dan keberhasilan mesti tercapai walaupun harus dengan cara kehilangan teman-teman dekat dan menebar permusuhan.

Di sisi lain, kita melihat sifat serupa sudah mulai merasuk ke dalam tokoh-tokoh umat. Akibatnya, masing-masing orang berjuang hanya demi mementingkan kelompoknya sendiri. Wajar kiranya hari ini, bila kita selalu merasakan umat Islam selalu tersingkirkan. Sebab persatuannya betul yang telah rapuh. Beberapa kali umat Islam selalu kalah di parlemen dalam menggodok undang-undang. Bahkan tidak jarang yang terjadi adalah saling baku hantam antar sesama umat Islam sendiri yang disebabkan perkara-perkara yang sepele.

Oleh sebab itu, sudah saatnya bagi kita merenungi kembali pesan-pesan Allah SWT tentang persaudaraan ini agar tidak terjebak pada pola hidup materialistis yang mempersempit rasa persaudaraan dan melenyapkan rasa kasihan demi mendapatkan suatu keberhasilan. Allah berfirman :

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat [49] : 10).

Secara implisit, ayat ini menjelaskan tentang pentingnya persaudaraan antar orang-orang mukmin. Karena, hanya dengan bersaudara dan bersatulah, rahmat Allah SWT akan diturunkan-Nya kepada hamba-Nya. Makanya, dalam ayat ini diperintahkan agar setiap persengketaan yang terjadi sesama muslim segera diselesaikan dengan baik.

Persaudaraan yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah persaudaraan berdasarkan agama. Oleh sebab itu, ketika terjadi pertikaian sesama orang-orang mukmin, Allah memerintahkan agar mereka didamaikan kembali. Hal ini diisyaratkan dalam ayat berikut :
Artinya : “dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil.” (QS. Al-Hujurat [49] : 9)

Menurut Said Agil Husin al-Munawar (2003 : 246), ayat-ayat dalam surah al-Hujurat ini menggambarkan dua metode menciptakan persaudaraan antara orang-orang beriman. Pertama, jika terjadi konflik antara orang-orang beriman, maka harus diselesaikan dengan adil. Kedua, tindakan preventif, yakni bersifat pencegahan hal-hal yang dapat menimbulkan potensi konflik, seperti larangan menghina, menggunjing, memperolok-olok, dan berprasangka buruk.

Menarik sekali beberapa bentuk tindakan preventif yang digambarkan al-Qur’an tersebut. Sebab, semua larangan di atas jika dilanggar, akan dapat mendatangkan terjadinya konflik. Jika dihayati dengan mendalam akan terlihat betapa tingginya pengajaran Allah SWT dalam rangka menciptakan ketenangan, kedamaian dan persatuan sesama manusia. Allah berfirman :
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat [49] : 11)

Demikian juga dengan sikap yang terlalu mudah berprasangka buruk (Su’uz zhan) tanpa alasan yang jelas, mencari-cari kesalahan orang lain maupun mempergunjingkan keburukannya.

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat [49] : 12)

Larang yang keras juga disampaikan Rasulullah SAW : “Jauhilah oleh prasangka! Sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta.” (Muttafaqun ‘alaih)

Bila beberapa pesan al-Qur’an tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan setiap muslim, niscaya mereka akan kuat serta disegani orang lain. Namun, akibat tingginya rasanya ego masing-masing kelompoklah, akhirnya berbagai kesulitan dan kegagalan kembali dirasakan. Dalam skala internasional, negara-negara Islam sering hanya dijadikan boneka negara-negara Barat. Sedangkan secara nasional, umat Islam tercatat mayoritas, namun lemah dalam menyampaikan berbagai aspirasinya. Wallahu a’lam.

Jumat, 07 November 2008

PENTINGNYA KEJUJURAN

Oleh : Ujang, S.ThI

Rasulullah saw bersabda:”Hendaklah kamu berlaku jujur. Sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan. Dan sesungguhnya kebaikan itu menunjuki ke dalam surga. Sesungguhnya seseorang yang selalu bersikap jujur dan memelihara kejujuran, sehingga akan ditulis di sisi Allah sebagai Shiddiq (orang yang jujur). Dan jauhilah olehmu berdusta. Sesungguhnya dusta itu membawa kepada kedurhakaan dan sesungguhnya kedurhakaan itu membawa ke dalam neraka. Sesungguhnya seseorang yang senantiasa bersikap dusta dan memelihara kedustaan sehingga akan ditulis disisi Allah sebagai kadzdzab (pendusta) (Muttafaqun ‘Alaih)

Hadits di atas secara tegas mengisyaratkan betapa pentingnya kejujuran dalam kehidupan manusia. Jika hari ini kita bertanya, mengapa sering terjadi perilaku tidak benar dalam berbagai segi kehidupan, seperti penipuan, penganiayaan, kolusi, korupsi, dan nepotisme? Maka jawaban singkatnya barangkali ialah karena tidak adanya sikap hidup jujur dalam diri individu tersebut.

Menurut al-Raghib al-ashfahani dalam al-mufradat fi gharib al-Qur’an, Shidq (jujur) ialah kesesuaian perkataan hati dengan berita yang disampaikan. Maka, ketika seseorang sering memutarbalikkan suatu fakta dengan yang sebenarnya, sudah menunjukkan kalau kejujuran itu tidak ada.

Saat ini, setiap kita mengetahui bahwa munculnya multi krisis dalam kehidupan berbangsa tiada lain karena telah hilangnya rasa kepercayaan terhadap orang yang diberi amanah. Dan hal itu muncul karena hilangnya sikap jujur pada sebagian orang. Hal ini tidak perlu membuat kita tersinggung. Sebab, bukan rahasia lagi bahwa penyakit moral yang paling melekat pada sebagian besar kita hari ini ialah memudarnya rasa jujur dan meningkatnya kemunafikkan.

Kenapa tidak? Bukankah di antara tanda-tanda orang munafik yang pernah disebutkan Rasul telah jadi tontonan dan pendengaran kita sehari-hari saat ini. Rasulullah saw bersabda: ”Tanda-tanda oaring munafik ada tiga : apabila berkata dusta, apabila berjanji mungkir dan apabila diberi kepercayaan khianat.” (Muttafqun ‘Alaih)

Perkataan bukan lagi menjadi sesuatu yang bernilai oleh sebagian orang, sehingga berdusta tidak lagi menjadi ketakutan. Demikian pula dalam berjanji. Begitu mudah diucapkan, namun hanya tinggal sebagai ungkapan semata, atau sekedar alat untuk menarik simpati orang lain dan pada akhirnya juga tidak akan ditepati. Yang lebih sulit lagi ialah setiap kali diberi kepercayaan, seperti memimpin atau mengelola suatu lembaga, namun begitu mudah baginya untuk mengkhianati orang yang memberikan kepercayaan itu.

Bukankah Rasulullah SAW pernah mengatakan : “Tinggalkanlah segala yang meragukanmu kepada hal yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya jujur itu adalah ketenangan dan dusta itu adalah keraguan.” (HR. al-Turmudzi).

Maka, tidaklah mengagetkan jika kita jumpai orang-orang yang berlaku dusta akan menemukan kesengsaraan dalam kehidupannya. Bahkan tidak jarang dijumpai, orang-orang yang semula memiliki kehidupan yang mewah, berwibawa dan dihormati banyak orang, tapi kemudian berubah menjadi orang yang dibenci dan dimusuhi banyak orang pula. Ada orang yang semula kehidupannya penuh ketenangan, tapi kemudian berubah menjadi orang yang sangat menderita akibat kedustaan yang pernah dilakukannya.

Oleh sebab itu, tiada lagi pilihan hidup yang tepat selain bersikap benar dan jujur. Karena Allah SWT telah menjanjikan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab [33] : 35)

Sabtu, 01 November 2008

CARA PRAKTIS MENCARI HADIS

Oleh : Ujang, S.ThI

Ketika kita ingin mengumpulkan beberapa ayat al-Qur’an yang berbicara tentang suatu tema, maka kita sudah terbiasa mencarinya dengan menggunakan kitab Fathurrahman ataupun al-Mu’jam al-Mufahras li al-Faazh al-Qur’an. Sehingga, dengan menggunakan kedua kitab tersebut, kita bisa menghimpun beberapa ayat tentang suatu masalah dalam waktu yang mudah. Namun bagaimana dengan hadis nabi Muhammad saw? Adakah kitab-kitab yang bisa digunakan untuk memudahkan kita dalam mencari hadis dalam kitab-kitab hadis yang sangat banyak itu?

Terdapat beberapa kitab pencari hadis yang telah dicetak saat ini, tergantung metode apa yang dipakai dalam mencarinya. Salah satunya adalah kitab al-Mu’jam al-Mufahras li al-Fazh al-Hadits an-Nabawi yang terdiri dari tujuh jilid, disusun oleh sejumlah orientalis, salah seorangnya adalah Dr. A.J. Weinsk (guru besar bahasa Arab di Universitas Leiden). Buku ini dicetak oleh percetakan Brill, Leiden, Belanda. Ikut serta dalam mentakhrijnya Muhammad Fuad Abdul Baqi.


Proses pencetakan buku ini memakan waktu selama 33 tahun (cetakan I tahun 1936, sedangkan cetakan jilid terakhir tahun 1969 M. Menurut Prof. Dr. Mahmud al-Thohhan, proyek besar ini terealisir berkat bantuan dari komunitas Ilmiah Inggris, Denmark, Swedia, Belanda, Unesco, Alez F.S dan pergerakan Belanda untuk pembahasan ilmu murni dan PBB bidang perkumpulan ilmiah.


Kamus pencari hadis ini hanya dapat digunakan terhadap sembilan kitab hadis, yaitu Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan at-Turmudzi, Sunan Abu Daud, Sunan an-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, al-Muwatha’ Imam Malik, Musnad Ahmad bin Hanbal dan Musnad ad-Darimy. Masing-masingnya dilambangkan dengan symbol tertentu. Jika hadis itu terdapat dalam kitab Bukhari, Turmudzi, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Darimy ditulis dengan menjelaskan judul kitab nomor bab tempat terletaknya hadis tersebut. Kitab Imam Muslim dan Malik ditulis dengan menjelaskan judul kitab dan nomor urutan hadis tempat terletaknya hadis tersebut. Sedangkan bila hadis itu terdapat dalam Musnad Ahmad bin Hanbal, maka dituliskan dengan menjelaskan jilid buku dan halaman tempat terletaknya hadis tersebut.


Pencarian dengan metode ini dilakukan dengan menggunakan kata-kata yang jarang digunakan dalam suatu bagian matan hadis. Sebagai contoh, penulis kemukakan bentuk kata kunci pencari hadis dalam kamus ini untuk masing-masing kitab hadis serta akan dijelaskan maksud kata kunci tersebut :

خ شركة ٣, ١٦
Maksudnya hadis yang dicari terdapat dalam kitab Shahih Bukhari dalam kitab Syirkah bab ketiga dan keenam belas.

م فضائل الصحابة ١٦٥
Maksudnya hadis tersebut terdapat dalam kitab Shahih Muslim dalam kitab Fadhail ash-Shahabah hadis nomor 165.

ت أدب ١٥
Maksudnya hadis yang dicari terdapat dalam kitab Sunan Turmudzi dalam kitab Adab bab kelima belas.

د طهارة ٧٢
Maksudnya hadis yang dicari terdapat dalam kitab Sunan Abu Daud, dalam kitab Thaharah bab ketujuh puluh dua.

ن صيام ٧٨
Maksudnya hadis yang dicari terdapat dalam kitab Sunan Nasa’i, kitab Shiyam bab ketujuh puluh delapan.

جه تجارات ٣١
Maksudnya hadis yang dicari terdapat dalam kitab Sunan Ibnu Majah, kitab Tijarat bab ketiga puluh satu.

ط صفة النبي ٣
Maksudnya hadis yang dicari terdapat dalam kitab Muwatha’ Imam Malik, kitab Shifatun nabi hadis nomor tiga.

حم ٤, ١٧٥
Maksudnya hadis yang dicari terdapat dalam kitab Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid keempat halaman 175.

دي صلاة ٧٩
Maksudnya hadis yang dicari terdapat dalam kitab Musnad ad-Darimy, kitab Shalat bab ketujuh puluh sembilan.

Referensi : Dasar-dasar Ilmu Takhrij dan Studi Sanad karangan Mahmud al-Thohhan dan Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki karangan Said Agil Husin Al Munawar.


Jumat, 17 Oktober 2008

RENUNGAN SURAH AL-FATIHAH

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang Kami sembah dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan. Tunjukilah Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (QS. Al-Fatihah : 1-7)

Marilah kita memulai setiap pekerjaan baik yang kita lakukan dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya. Bukankah keteraturan alam semesta ini merupakan ciptakan Allah dan Allah pula yang selalu mengaturnya??
Ayat ini juga mengingatkan kita untuk selalu mengakhiri setiap aktivitas kita dengan membaca “al-hamdu lillah”. Karena, berhasilnya kita melakukan setiap perbuatan kita hanyalah karena limpahan nikmat dan karunia Allah swt. Betapa banyak orang yang gagal dalam menggapai hasil karena suatu musibah atau kesalahan dalam berusaha, dan boleh jadi hal itu disebabkan karena Allah tidak ridha dengan yang kita lakukan. Boleh jadi, kegagalan kita adalah karena Allah belum mengizinkan kita meraih kesuksesan itu sekarang. Tapi yang jelas, Allah memiliki sifat ar-Rahman dan ar-Rahim. Yang berarti, bahwa kasih sayang Allah tidak akan pernah putus-putusnya.
Allah juga adalah yang berkuasa secara mutlak pada hari akhirat nanti. Ketika itu, Allah akan minta pertanggung jawaban dari usia yang telah kita habiskan, demikian juga tentang perbuatan yang kita lakukan selama hidup di dunia. Oleh sebab itu, sudah sewajarnya bila kita hanya menjadikan Allah sebagai yang kita sembah, karena memang Allah-lah Tuhan yang sebenarnya. Maka, seharusnya, kita selalu meminta pertolongan hanya kepada Allah. Tidak sepatutnya kita melakukan kemusyrikan, dengan menjadikan benda-benda selain Allah sebagai penolong kita.
Ayat ini, juga mengajak kita untuk selalu meminta hidayah kepada jalan yang lurus (benar) kepada Allah. Sebab, hawa nafsu dan gemerlapnya dunia sering menggelincirkan kita dari jalan tersebut. Bukankah umat-umat terdahulu telah dibinasakan Allah, sebagiannya disebabkan karena mereka dimurkai Allah dan menempuh jalan yang sesat?? Semoga kita terjauh dari segala bentuk kesesatan. Amin.

Bukittingi, 17 Oktober 2008
(Ujang, S.ThI)

Rabu, 15 Oktober 2008

KEUTAMAAN RASULULLAH

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33] : 21)

Besok, tepatnya 12 Rabiul Awal 1428 H, kita kembali memperingati hari kelahiran Rasulullah Muhammad saw, yang biasa dikenal dengan peringatan maulid nabi. Peringatan ini memang tidak pernah dilakukan pada zaman Rasul saw maupun sahabat-sahabatnya. Tetapi dengan mengadakan peringatan seperti ini juga bukanlah suatu kesalahan. Sebab, momen ini hanya ingin kita jadikan untuk mengingat kembali betapa pentingnya kehadiran beliau dalam perbaikan akhlak manusia yang pengaruhnya masih dapat dirasakan sampai sekarang.
Tidaklah berlebihan, bila dikatakan bahwa pada diri Rasulullah terdapat keteladanan yang sempurna. Keteladanan ini tidak hanya disebabkan dalam kapasitasnya sebagai seorang Rasul dan telah mendapatkan bimbingan wahyu. Namun, dari sisi manusiawinya, beliau telah memiliki banyak keutamaan yang jarang ditemukan pada setiap orang.
‘Abbas Mahmud al-‘Aqqad, sebagaimana dikutip oleh M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, menjelaskan ada empat tipe manusia, yaitu pemikir, pekerja, seniman dan yang jiwanya larut dalam ibadah. Jarang ditemukan satu pribadi yang terkumpul dalam dirinya dan dalam tingkat yang tinggi dua dari keempat kecenderungan atau tipe tersebut, dan mustahil keempatnya berkumpul pada diri seseorang. Namun pada diri nabi Muhammad berkumpul keempat tipe tersebut.
Pendapat di atas tidaklah berlebihan, karena orang yang menelusuri sejarah kehidupan beliau secara objektif, pasti akan mengakui keutamaannya. Makanya, seorang orientalis yang bernama Michael H. Hart menempatkan beliau pada urutan pertama dalam bukunya Seratus Tokoh dunia. Meskipun masih ada beberapa orang yang berusaha memperlihatkan celaan beliau, namun itu semua tidak lain berasal dari subjektifitas mereka yang memang sudah anti dengan agama Islam, terlebih dengan Rasul yang membawanya.
Pentingnya keteladanan Rasulullah tidak hanya berdasarkan penilaian manusia, namun Allah swt sendiri yang telah memberikan isyarat tentang hal itu. Hal ini dapat dilihat dalam QS. Al-Ahzab [33] : 21, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Ayat ini secara eksplisit menunjukkan bahwa keteladanan yang dimilikinya sudah diakui dan disahkan Allah swt untuk ditiru. Tidak seperti tokoh-tokoh yang lain, dalam beberapa aspek kita mengaguminya, tapi tidak jarang pada sisi lain perbuatan mereka tidak disukai banyak orang.
Seorang pakar tafsir, Al-Qurthubi, mengemukakan bahwa dalam soal-soal agama, keteladanan itu merupakan kewajiban, tetapi dalam soal-soal keduniaan, maka ia merupakan anjuran. Pendapat demikian dilatarbelakangi oleh ucapan Rasul pada peristiwa pengawinan korma yang dilakukan beberapa orang sahabat, bahwa “kamu lebih mengetahui urusan-urusan duniamu.”
Ketika Aisyah ditanya orang tentang akhlak Nabi, ia menjawab “Akhlaknya adalah Al-Qur’an.” Bagi orang yang memahami al-Qur’an, mereka akan memahami bahwa semua ajaran al-Qur’an teraplikasi dalam kepribadian dan perbuatan Rasulullah. Makanya, Allah memuji akhlaknya sebagai akhlak yang agung, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam [68] : 4). Oleh sebab itu, beliau merupakan sosok pemimpin dan pengajar yang telah mengamalkan semua ajaran yang disampaikannya. Berbeda dengan kebanyakan orang hari ini yang hanya lebih pintar bicara, tetapi tidak mampu melakukan segala yang diucapkannya, bahkan terkadang perkataannya itu bertentangan dengan perbuatannya sendiri. Allah mengatakan : “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS. Al-Shaf [61] : 3).
Dalam kapasitasnya sebagai Rasul, misi beliau adalah : Pertama, Penutup para nabi. Allah katakan, “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab [33] : 40). Kedua, Membenarkan para nabi sebelumnya dan menghapus serta menyempurnakan risalah sebelumnya. “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (QS. Al-Shaf [61] : 9) Ketiga, Ditujukan untuk seluruh manusia. Dalam QS. Saba’ [34] : 28, dijelaskan, “Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” Keempat, Ditujukan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Hal ini diisyaratkan Allah, “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’ [21] : 107).
Dengan diketahuinya misi utama kedatangan Rasulullah saw ini, maka sudah seharusnya kita melakukan beberapa kewajiban kepadanya dengan melaksanakan beberapa hal berikut : Pertama, Membenarkan apa yang dikabarkannya. Allah mengatakan, “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (al-Zumar [39] : 33). Kedua, Menaati semua perintahnya. Dalam QS. Al-Nur [24] : 51, dikatakan : “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: Kami mendengar, dan kami patuh. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Ketiga, Menjauhi apa yang dilarangnya. “……Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr [59] : 7). Keempat, Melaksanakan ibadah dengan jalan mengikuti syarai’at yang disampaikannya. “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS. Al-Nisa’ [4] : 80).
Berdasarkan uraian di atas, semoga kita dapat menjadikan peringatan maulid nabi tahun ini untuk lebih mengenal kepribadian Rasulullah saw sebagai manusia yang paling agung dan memiliki puncak akhlak termulia. Karena orang mengenal kepribadiannya secara mendalam akan semakin mengaguminya, sehingga terpanggil hatinya untuk meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari. (wallahu a’lam)